Jumat, 10 Juni 2011

Kabar Gembira, Lubang Ozon Mengecil


Peneliti mengkalkulasi, lubang ozon di atas kutub selatan telah menyusut hingga 15 persen dibandingkan pada saat lubang ozon mencapai titik maksimalnya di tahun 1990-an. (techmill.net)
BERITA TERKAIT
Untuk pertama kalinya, ilmuwan menemukan bukti yang meyakinkan bahwa lubang raksasa akibat polusi kimia di lapisan ozon terus menyusut. Artinya, kebijakan Protokol Montreal yang diterapkan sejak 22 tahun lalu menuai hasil.

Pada protokol yang ditandatangani tahun 1989 disepakati penggunaan chlorofluorocarbons (CFC), bahan beracun yang biasa digunakan pada penyejuk udara dan lemari es tidak boleh lagi digunakan.

Dari penelitian, pelarangan itu telah membantu planet Bumi memulihkan sebagian lapisan ozon pelindungnya.

Sebagai informasi, lubang ozon bukanlah benar-benar lubang, melainkan sebuah kawasan di atas kutub di mana lapisan ozon yang umumnya memiliki kandungan molekul O3 setebal sekitar 24 kilometer tergerus menjadi sangat tipis. Padahal, lapisan ini merupakan pelindung planet Bumi dari radiasi sinar Matahari.

Bukti-bukti bahwa lapisan ozon, khususnya di kawasan kutub selatan kembali menebal merupakan kabar gembira bagi kehidupan di dunia. Pasalnya, lapisan ozon mampu menyerap hingga 99 persen sinar ultraviolet frekuensi tinggi hingga Bumi bisa dihuni makhluk hidup.

Sebelum ini, ilmuwan pakar atmosfir menemukan bahwa jumlah CFC yang menyebabkan penipisan ozon di startosfir (salah satu lapisan di ketinggian antara 8 sampai 50 kilometer) di atas kutub utara, terus menurun.

Peneliti memperkirakan penurunan jumlah CFC berpotensi meningkatkan ketebalan lapisan ozon di kawasan itu. Namun selama ini peneliti belum bisa memastikannya. Salah satu alasannya, ketebalan lapisan ozon berfluktuasi secara dramatis dari musim ke musim. Sehingga besarnya lubang ozon sulit dilakukan.

Kini, sekelompok peneliti lingkungan yang diketuai Murry Salby, dari Macquarie University, Sydney, Australia, berhasil menemukan penyebab terjadinya fluktuasi ketebalan ozon. Dengan menghilangkan fluktuasi itu dari data yang dikumpulkan, peneliti bisa menghasilkan data perubahan sistematik pada lapisan ozon kutub selatan.

Pada laporan yang dipublikasikan di jurnal Geophysical Research Letters, peneliti mengalkulasi, kini lubang ozon di atas kutub selatan telah menyusut hingga 15 persen dibandingkan pada saat lubang ozon mencapai titik maksimalnya di tahun 1990-an.

“Temuan ini merupakan bukti yang dihasilkan dari penelitian yang meyakinkan seputar pulihnya lapisan ozon,” kata Adrian McDonald, ilmuwan pakar atmosfir dari University of Canterbury, Christchurch, Selandia Baru, seperti dikutip dari LifeLittleMysteries, 20 Mei 2011.

McDonald menyebutkan, temuan ini merupakan contoh di mana jika signifikansi data-data statistik cukup tinggi, Anda bisa melihat pola dengan lebih jelas dan  bisa meyakini data tersebut.

Bumiku Sayang, Bumiku Malang




SEIRING dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, maka peradaban manusia semakin maju. Hal ini mengakibatkan meningkatnya tingkat kebutuhan dan keperluan manusia dalam berbagai bidang. Apalagi dalam hal kebutuhan sumber daya alam yang langsung disediakan oleh alam. Alam pada dasarnya telah menyediakan kebutuhan dasar manusia, namun seiring dengan meningkatnya jumlah penduduk manusia serta bertambahnya kebutuhan manusia, maka alam mengalami penurunan dalam menyediakan kebutuhan manusia.

Menjelang abad ke-21, terjadi beragam bencana yang belum pernah terjadi sebelumnya. Adanya berbagai fenomena alam yang merugikan manusia antara lain global warming, el nino, la nina, badai dan angin puting beliung serta gunung meletus senantiasa menyertai kehidupan manusia di abad ini. Selain karena kondisi alam yang semakin menurun karena terjadinya degradasi lingkungan, terdapat juga peran yang tidak bisa dihindarkan yaitu rendahanya perhatian manusia terhadap kondisi lingkungan sekitarnya.

Sesuai dengan hukum Malthus, yakni pertambahan jumlah manusia sejalan dengan deret ukur, sedangkan peningkatan produksi sumber daya alam sejalan dengan deret hitung, maka hal ini menyebabkan ketimpangan yang tidak seimbang antara alam dan manusia. Sehingga ada dua hal yang mengakibatkan kerusakan lingkungan yaitu dari internal lingkungan itu sendiri dan eksternal, yang merupakan manusia sebagai pelaku yang ada di lingkungan tersebut.

Saat ini, ada beberapa hal yang bisa dilakukan untuk menyelamatkan lingkungan. Persoalan tentang kesadaran menjadi hal yang primer dalam upaya merehabilitasi dan memperbaiki kondisi lingkungan itu sendiri. Mind set manusia tentang keselamatan lingkungan harus menjadi prioritas yang tak boleh dilalaikan lagi sebab kondisi lingkungan yang baik merupakan kebutuhan wajib agar manusia mampu bertahan hidup. Seperti kata AA Gym, mulai dari sekarang, mulai dari diri sendiri, mulai dari yang terkecil menjadi hal yang paling mudah dilakukan dalam upaya penyelamatan lingkungan.

Yang kedua yang bisa dilakukan adalah melakukan gaya hidup “green life style” yang mengedepankan prioritas terhadap lingkungan. Hal ini sangat mudah diterapkan dalam kehidupan kita sehari-hari, namun perlu pembiasaan agar tidak menjadi hal yang berat untuk dilakukan secara berulang-ulang.
Misalnya melakukan pemilahan sampah menjadi tiga macam: organik, anorganik, dan barang pecah belah. Hal ini mampu mengurangi secara signifikan kerusakan yang terjadi di dalam tanah karena pembusukan yang tidak sempurna mampu ditanggulangi melalui aktivitas ini.

Selanjutnya adalah berorientasi jangka panjang dengan melakukan penghematan terhadap sumber-sumber alam yang tidak terbarukan. Penelitian menunjukkan bahwa cadangan sumber daya alam yang ada di dunia akan dengan mudah habis dalam jangka beberapa puluh tahun ke depan jika penduduk bumi tetap mempertahankan gaya hidup yang boros dan tidak peduli dengan lingkungan. Hal ini seharusnya menjadi penanda bagi kita agar setiap kita
(baca: masyarakat bumi) memahami dan memperdulikan kondisi lingkungannya.

Apalagi sebentar lagi kita akan memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia, yaitu pada 5 Juni 2011. Hal ini seyogyanya telah menjadi alaram bagi kita agar kembali menengok ke belakang, apa yang telah kita lakukan untuk bumi kita tercinta? Sudahkah kita menaruh sedikit kepedulian terhadapnya? Sudahkah kita melakukan banyak hal atas apa yang kita lakukan di atas bumi kita tercinta ini? Karena pada dasarnya bumi tempat kita berpijak ini bukanlah warisan nenek moyang kita, tapi lebih dari itu, bumi yang sekarang menjadi rumah bagi hampir dua miliar penduduk bumi ini adalah warisan yang harus kita berikan kepada anak cucu kita nantinya.

Mari untuk Hari Lingkungan Hidup Sedunia, kita persembahkan suatu yang berbeda terhadap bumi kita. Persembahan terbaik bahwa kita telah sadar dan ingin melakukan yang terbaik bagi lingkungan hidup kita.

 

Andhi Susanto
Mahasiswa Ilmu Hubungan Internasional
Universitas Gadjah Mada (UGM)
Kepala Departemen Humas&Jaringan, UKM Pengkajian dan Penelitian Gama Cendekia UGM

Google Ingin Atasi Bencana Alam di Indonesia


Trisno Heriyanto - detikinet

Michael T Jones (inet)
Jakarta - Salah satu kesulitan mengatasi bencana alam yang terjadi adalah kurangnya informasi. Nah, Google siap membantu mengatasinya lewat teknologi yang mereka miliki.

Teknologi dan sosial media memang terbukti mampu membantu manusia dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya saja kasus fenomenal pengumpulan 'Koin untuk Prita' atau 'Dukung Bibit-Chandra'.

Selain itu teknologi juga bisa dimanfaatkan untuk penanggulangan bencana alam. Contoh kasus pada akun Twitter JalinMerapi, yang kerap memberikan update terbaru mengenai kondisi gunung merapi pada waktu itu.

Berkaca dari hal tersebut, Google pun bertekad untuk mengembangkan seluruh produknya agar bisa dimanfaatkan ketika bencana alam terjadi. Baik itu penyebaran informasi via search engine, YouTube, bahkan pantauan satelite dari Google Earth.

"Dengan Google Earth Anda bisa memantau keadaan jalan. Hal ini bisa membantu jika ada yang regu penolong yang ingin menuju ke tempat kejadian, misalnya mencari jalur mana yang aman," ujar Michael T Jones, Chief Technology Officer Keyhole, Google.

Di sela-sela ajang konferensi TechCamp di @amerika, Pasific Place, Kamis (19/5/2011), Jones juga menunjukkan berbagai kehebatan yang bisa digunakan pada Google Earth. Salah satunya untuk mencari penyebab bencana tsunami.

 
"Lewat Google Earth kini kita tidak hanya melihat bumi saja, tapi juga planet lain. Dan bukan hanya dataran saja, melainkan juga dunia bawah laut. Hal ini bisa sangat membantu untuk mencari pemicu gelombang tsunami," tambah Jones.

Jones juga menambahkan bahwa Google saat ini telah mengumpulkan data laut dari berbagai organisasi. Namun sayang, data untuk wilayah Indonesia belum lengkap.

"Di Indonesia karena negara kepulauan jadi cukup sulit mengumpulkan data. Tapi saat ini kami telah bekerjasama dengan beberapa organisasi lokal akan bisa menciptakan peta yang lebih detail. Dan semoga saja bisa membantu mengatasi bencana alam di Indonesia," tandas Jones.

 

Krisis Pangan India Mengkhawatirkan


NEW DELHI--MICOM: Organisasi internasional Axfam menyebutkan krisis pangan yang terjadi di India saat ini sudah mengkhawatirkan. Saat ini, 40 persen penduduk India mengalami kurang gizi.

"Meskipun dua kali lipat dari ukuran ekonominya sejak 1990, jumlah orang kelaparan di India telah meningkat sebesar 65 juta jiwa karena pembangunan ekonomi tidak termasuk skema perlindungan sosial pedesaan yang miskin dan gagal mencapai mereka," kata kantor berita India PTI mengutip manajer kemanusiaan nasional Oxfam Zubin Zaman.

Zaman juga menyerukan kepada sektor swasta untuk beralih ke model bisnis dimana keuntungan tidak dibuat dengan mengorbankan produsen miskin, konsumen dan lingkungan. Oxfam meluncurkan kampanye global 'GROW' bagi dunia bebas kelaparan di sini bersama dengan Delhi, Mumbai, Hyderabad, Lucknow dan Patna. "Kampanye selama empat tahun telah diluncurkan untuk mengatasi masalah rumit harga pangan dan siklus tak berujung krisis pangan daerah yang membuat jutaan orang kelaparan kecuali jika kita mengubah cara kita tumbuh dan berbagi makanan," kata Zaman.

Kampanye ini akan melakukan upaya-upaya untuk memimpin transformasi ke sistem adil berkelanjutan dengan berinvestasi di bidang pertanian, menilai sumber daya alam di dunia, mengelola sistem pangan yang lebih baik dan memberikan kesetaraan bagi perempuan yang menghasilkan banyak makanan di dunia.